Espace et Temps

    Pict: Sunrise - R1SE (MV)

Cahaya biru muda dan jingga memancar dari tabung-tabung kaca, berisi larutan elusif yang memutari mesin. Suara mesin yang berputar, menggetarkan udara. Semua peralatan berfungsi dengan presisi, mencatat setiap detik yang berlalu.

"Tuan, apakah Anda yakin ini tempatnya?" tanya seorang laki-laki berhidung belang yang tengah kebingungan.

"Entah, aku juga tidak tahu," sahut seseorang yang disebut 'Tuan'. "Kau tinggal ikuti aku dan simpan saja suaramu itu."

Laki-laki berhidung belang itu mendengus kesal. Selalu saja 'tuannya' seperti itu. Jika bukan karena rasa penasarannya, ia tidak akan mengikuti eksperimen gila yang dibuat oleh 'tuannya'. 

"Nah, Étrionne, aku menemukan sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk untuk menyelesaikan misi kita nanti," ujar 'tuan' Étrionne—laki-laki berhidung belang dengan senyum lebar. 

Étrionne menghampiri 'tuannya' yang tengah membawa sebuah prisma transparan yang memancarkan cahaya berwarna biru muda dan jingga. Sejenak, ia terpana dengan cahaya yang terus menari di dalam prisma tersebut. Lantas ia merebut prisma tersebut dari sang 'tuan' dan mengamati setiap sudut prisma.

"Hei, di mana sopan santunmu?" gerutu sang 'tuan' berusaha merebut kembali prisma yang dipegang Étrionne.

Étrionne yang tidak siap dengan hal tersebut lantas tersandung oleh kakinya sendiri dan terjatuh kebelakang menghantam meja.

"Ahh ... dasar ilmuwan gila!" rintih Étrionne dengan kesal. "Tuan Terre, saya hanya ingin memastikan apakah benda itu bahaya atau tidak. Mengapa kau langsung merebutnya?"

"Nah, aku tidak peduli. Aku sudah terbiasa dengan sesuatu yang seperti itu," ujar Tuan Terre—sang ilmuwan dengan santai.

Lagi-lagi Étrionne mendengus dengan kesal. Lalu ia berusaha berdiri dan mengamati meja yang ada dibelakangnya. Dahinya mengernyit ketika melihat sebuah map yang berisi tulisan 'Fragments de mémoire'. Tanpa berpikir lama, ia membuka map tersebut dan mengambil isi map yang belum tahu apa isinya lalu dimasukkan ke dalam saku jas nya.

"Étrionne, apa yang kau lakukan?" tanya Tuan Terre menghampiri Étrionne.

"Bukan apa-apa," jawabnya cepat. "Aku ... hanya ingin melihat apa yang ada di meja ini."

Rasa penasaran Tuan Terre semakin tinggi, karena menurutnya Étrionne menyembunyikan sesuatu yang mungkin akan membahayakan dirinya.

"Kau tak menyembunyikan apa-apa dariku, ’kan?" tanyanya penuh selidik.

"Menurutmu, apa yang bisa ku sembunyikan darimu?"

Baru saja Tuan Terre ingin menyahuti, tiba-tiba prisma yang berada di tangannya bergetar dan cahaya yang didalamnya semakin terang.

"Apa yang terjadi?" pekik Tuan Terre kala tangannya ikut bergetar tanpa henti.

Lalu Étrionne menghampiri Tuan Terre dan mencoba mengambil prisma tersebut. Namun nahas, tangannya ikut bergetar hebat. 

Tak hanya tangan mereka, prisma tersebut juga menggetarkan setiap sudut ruangan hingga seluruh lampu menjadi padam.

Kini cahaya dari prisma menjadi berkali-kali lebih terang hingga menyilaukan mata.

"Tuan, apa yang terjadi? Mengapa aku tak bisa melihat apa-apa?" tanya Étrionne dengan kepanikan yang menyelimuti.

"Menurutku kita akan pergi ke tempat lain," sahut Tuan Terre tanpa beban. 

Étrionne yang mendengarnya mencoba untuk tidak merasa kesal di tengah kacaunya keadaan. Dirinya terus memikirkan bagaimana caranya agar dapat keluar dari tempat sialan ini.

Getaran pada ruangan tersebut perlahan berhenti. Cahaya yang berasal dari dalam prisma kian meredup. Lampu di ruangan kembali menyala, namun tidak seterang sebelumnya. Larutan-larutan kini menjadi keruh, karena mesin yang tak bekerja.

Keduanya menatap ruangan tersebut dengan penuh tanya. Mereka merasa tak mengenali ruangan yang 'suram' itu.

Étrionne beranggapan bahwa mereka telah sampai di tempat lain. "Tuan, apakah Anda yakin ini tempatnya?"

"Entah, aku juga tidak tahu," sahut Tuan Terre sambil mengamati ruangan. "Kau tinggal ikuti aku dan simpan saja suaramu itu."

Étrionne kemudian mengikuti Tuan Terre ke manapun. Sampai mereka di sebuah meja yang berhadapan.

"Nah, Étrionne, aku menemukan sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk untuk menyelesaikan misi kita nanti," ujar Tuan Terre ketika menemukan sebuah prisma di meja tersebut.

Lalu Étrionne mengamati prisma yang dipegang oleh Tuan Terre. Prisma tersebut berwarna abu-abu muda dan tidak transparan seperti sebelumnya. Yang membuatnya sama adalah cahaya berwarna biru muda dan jingga yang memancar dari dalamnya. Étrionne yang merasa tertarik, lalu merebutnya.

"Hei, di mana sopan santunmu?" hardik Tuan Terre lalu merebut kembali prisma tersebut. 

Étrionne yang tidak siap dengan hal tersebut, lantas ia terjungkal kebelakang dan mengenai meja yang ada dibelakangnya.

"Dasar ilmuwan gila!" umpat Étrionne sambil memegangi pinggangnya. 

Dirinya memegang salah satu sudut meja dan mencoba berdiri. Namun tangannya tak sengaja memegang sebuah map yang bertuliskan 'Fragments de mémoire'. Ia mengernyitkan dahinya, membolak-balikkan map tersebut. Lalu ia meraba saku jas nya dan mengambil sesuatu. 

"Apa maksudnya?" gumamnya berusaha merangkai benang merah yang berpesai-pesai.

Lantas dirinya mengingat pertama kali ia berada di tempat ini dan beberapa kejadian yang ia alami. Lalu ia tersadar bahwa kejadian barusan sudah pernah terjadi sebelumnya.

"Apakah ini tempat yang dimaksud oleh 'makhluk aneh' itu?" gumamnya sambil mengamati benda yang diambil dari saku jas nya. "Kalau begitu, aku tidak boleh membiarkan prisma itu bergetar lagi."

Étrionne menghampiri Tuan Terre yang terus mengamati setiap sudut prisma yang ia pegang dengan raut penasaran.

"Tuan, berhentilah menatap benda itu dan letakkan ke tempatnya! Aku memiliki sesuatu yang lebih penting untuk diberitahu," ujar Étrionne dengan tergesa.

"Apa maksudmu? Gara-gara kau, aku jadi tidak fokus meneliti prisma ini," gerutu Tuan Terre kesal.

"Tuan, ayolah ...," Étrionne terus memohon kepada Tuan Terre, namun tak diindahkan.

"Lebih baik kau langsung bicara saja," ujar Tuan Terre acuh tak acuh.

Étrionne yang merasa diabaikan lantas berkata, "Kau akan merugi jika terus menatap benda tak berguna itu dan kau tak akan bisa kembali ke tempat asalmu."

Lalu Étrionne menunjukkan sebuah kartu dari saku jas nya. "Benda ini ... benda ini adalah kepingan memori mu yang ketujuh, namun sayang sekali kau tak bisa mendapatkannya."

"Apa maksudmu? Bukankah kepingan memori ku hanya ada lima?" Tuan Terre menatap kartu itu dengan penuh tanya.

"Tuan, apakah Anda tahu jika sebenarnya isi kepingan memori ketiga Anda adalah 'waktu terus berlalu, pergi dan menghilang lah'?" Étrionne menyeringai kala melihat mimik wajah Tuan Terre.

Tuan Terre yang mendengar langsung naik pitam. "Jadi kau yang mengambil kepingan memori ku? Atas dasar apa kau mengambilnya!"

"Entahlah, aku tidak sengaja," sahut Étrionne santai. "Oh, ya, aku akan memberitahu satu hal lagi. Ruang ini, laboratorium waktu ini—berada di tengah Cincin Angkasa. Seperti yang kita tahu, Cincin Angkasa terus berjalan tanpa arah setiap 500 tahun sekali. Dan kebetulan sekali, bahwa hari ini tepat 500 tahun ketiga Cincin Angkasa berjalan tanpa arah. Jika tidak beruntung, Cincin Angkasa akan berjalan menuju lubang hitam lalu akan hancur atau akan membeku selama 500 tahun."

"Étrionne ... dari mana kau tahu dengan sedetail ini?" tanya Tuan Terre dengan penuh selidik. "Selama ini belum ada penelitian yang membahas Cincin Angkasa dengan sangat detail. Bahkan informasi mengenai Cincin Angkasa sangat sulit untuk didapatkan."

Étrionne hanya tersenyum remeh. "Aku hanya memberitahu apa yang ku pelajari dari tempat tinggal ku."

"Apa maksudmu?"

Étrionne menghela napas kasar. "Ternyata memang salahku yang selalu denial bahwa manusia itu sangat pintar."

"Lalu, apakah kau bukan— AHH!" pekik Tuan Terre ketika prisma yang dipegang kembali bergetar.

"Sayang sekali.Padahal aku masih ingin bercerita tentang diriku lebih banyak," ejek Étrionne melihat wajah Tuan Terre yang kesakitan.

"Satu hal lagi yang aku lupa beritahu," ujar Étrionne dengan senyum misterius. "Prisma yang kau pegang ini bernama Temchas, pemilik laboratorium waktu sekaligus penemu ruang dan waktu."

Tuan Terre semakin tak berdaya, karena tangannya terus gemetar dan prisma yang dipegang oleh dirinya tak bisa dilepas.

"Tuan Terre, kenapa kau keras kepala sekali? Jika kau langsung melakukan apa yang ku suruh, kau tidak akan seperti ini dan kita akan kembali bersama," ujar Étrionne yang terus menatap santai Tuan Terre.

Saat prisma tersebut perlahan terbuka, Étrionne lantas mendekat dan mengeluarkan kepingan memori ketujuh milik Tuan Terre. "Kepingan memori ketujuh milik mu berisi mantra yang harus diucapkan oleh penemu ruang dan waktu."

Lalu Étrionne memasukkan kartu tersebut kedalam prisma yang tengah terbuka.

***
Tuan Terre terbangun dan menatap sekelilingnya. Sebuah ruangan yang ia lihat sebelumnya, namun dengan kondisi yang berbeda. Seluruh ruangan menjadi biru seperti dipenuhi es batu.



Ib: Super R1SE Ep. 3-4, Sunrise - R1SE (MV), 十二的颜色 (Twelve's color)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal Ikhlas